FGDPersiapan menuju kurikulum bedampak 2025 bersama Prof. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS
Dalam Focus Group Discussion (FGD) mengenai persiapan menuju Kurikulum Berdampak yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (KEMENDIKTI SAINTEK), Prof. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS menyampaikan sejumlah poin penting yang harus menjadi perhatian dalam proses perancangan kurikulum di tingkat perguruan tinggi.

Beliau menekankan bahwa dalam membentuk Kurikulum Berdampak, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami secara menyeluruh profil universitas, serta menentukan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh setiap lulusan. Kompetensi ini mencakup tiga aspek utama: pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill). Ketiganya harus dirancang secara harmonis agar lulusan benar-benar siap memberikan kontribusi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.
Lebih lanjut, Prof. Evy menyarankan agar para dosen mulai menyusun struktur mata kuliah yang relevan dan terintegrasi dengan kebutuhan zaman. Hal ini dimulai dari perencanaan bahan kajian, metode penyampaian yang efektif, hingga sistem evaluasi yang tidak hanya bergantung pada Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS), tetapi juga mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah nyata dalam konteks pembelajaran.
Evaluasi pembelajaran menurut beliau juga dapat dilakukan melalui analisis terhadap permasalahan atau hambatan yang muncul selama proses pengajaran. Pendekatan ini memberikan ruang bagi para dosen untuk terus meningkatkan teknik mengajar mereka agar lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Selain itu, Prof. Evy juga menyoroti pentingnya mempererat hubungan antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan (tendik) sebagai satu ekosistem yang saling mendukung dalam mewujudkan dampak positif dari proses pendidikan. Kerja sama yang solid antar elemen ini akan memperkuat implementasi kurikulum secara menyeluruh.

Sebagai bentuk apresiasi, pada akhir sesi FGD, Prof. Evy memberikan sebuah buku yang sangat bermakna kepada peserta. Momen tersebut menjadi lebih hangat saat kami secara simbolis menyerahkan cinderamata sebagai tanda terima kasih atas kehadiran dan ilmu yang beliau bagikan. Kehadiran Ibu Dewi Qoryati juga memberikan warna tersendiri dalam diskusi hari itu, memperkuat semangat kolaboratif antara akademisi dan pemangku kebijakan.









